Hubungi Kami( 0285 ) 435 986 / 0852 2707 2900

AlamatJl. KH. Akrom Khasani, Kel. Jenggot, Kec. Pekalongan Selatan

By: admin

LATIHAN DASAR KEPEMIMPINAN T.A 2021

“Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto Dur Angkoro”

MEMAYU berasal dari kata ayu, Memayu berarti membuat ayu. Ayu berarti cantik, indah.

Hayuning bawana, artinya kecantikan alam semesta, karena bawana sejak Tuhan menciptakannya sudah ayu.

Ambrasto berarti menghilangkan, memberantas.

Dur angkara, sifat jahat, angkara murka. Bawana bisa kita sebut ‘alamin atau jagat raya dan seisinya.

Jadi Tuhan mencipta alam ini sudah melengkapinya dengan kecantikan, keindahan.

Maka tugas kita adalah memayu, membuat yang sudah indah tetap indah bahkan dengan rekayasa kita menjadi lebih indah.

Tugas kita memayu hayuning bawana identik dengan apa yang biasa disebut menjadi rahmatan lil’alamin menjadi rahmat bagi segenap jagat raya.

Membuat yang ada di jagat raya ini menjadi satu sistem yang harmonis, seperti saat Tuhan menciptakannya sehingga mendatangkan rahmat dan manfaat bagi seisi jagat raya berupa keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Sehingga mestinya tak ada keserakahan, permusuhan, penindasan dan perbudakan sesama manusia, bahkan terhadap makhluk yang lain.

Untuk itu dibutuhkan komitmen manusia untuk bersama-sama mewujudkan hayuning bawana itu dengan cinta kasih.

Ketika tulisan ini diturunkan, bangsa Indonesia tengah menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke 76.

Kita bersyukur bahwa para pendiri bangsa ini telah sangat baik menyiapkan rumusan undang-undang dasar sebagai pengejawantahan pitutur kali ini.

Mereka abadikan rumusan itu dalam empat alinea mukadimah atau pembukaan undang-undang dasar. Mari kita baca secara singkat.

Pada alinea satu mereka nyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak semua manusia, semua bangsa, dan penjajahan tidak boleh ada karena bertentangan dengan kemanusiaan dan keadilan.

Tidak Sombong

Pada alinea dua mereka nyatakan bahwa perjuangan mereka adalah mulia yaitu mewujudkan Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Pada alinea tiga, nampak sekali ketidak sombongan mereka. Mereka merendah dengan menyatakan bahwa kemerdekaan itu mereka peroleh berkat kemurahan Allah yang meridlai perjuangan luhur mereka.

Dan pada alinea empat mereka menyatakan bahwa keberhasilan yang telah mereka peroleh itu akan dipergunakan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteran umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Masya Allah hebatnya para pendiri negara ini. Dan Masya Allah hebatnya para sepuh memberi pitutur sekaligus tugas kepada para pendiri bangsa dan segenap kita semua.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 76. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadikan diri kita mampu memayu hayuning bawana berbekal kemerdekaan Indonesia.

Mari kita baca firman Allah S. 7 Al A’raf 157 yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung”.

*Dr KH Ahmad Darodji MSi, (Ketua Umum MUI Jawa Tengah) 

Lokasi             : Pagilaran
Tanggal          : 14 – 15 Desember 2021